Rabu, 08 September 2010
Penghujung Ramadhan 1431 H/2010 M
Jumat, 27 Agustus 2010
Selasa, 10 Agustus 2010
Perempuan
Para seniman telah mengisahkan dengan tulisan, lukisan, kata-kata, puisi, patung, lagu, novel, film, dan lainnya tentang ibu. Kasih sayang ibu, balada ibu, kehidupan ibu, banyak hal tentang ibu. Tak pernah berakakhir dan akan selalu menarik kisah-kisah itu. Karena ibu, makhluk yang diciptakan begitu dekat dengan kita dan manusia pertama yang bersentuhan dengan kita.
Banyak ajaran, mulai yang datang dari langit maupun ajaran budi pekerti yang berkembang di bumi selalu menjunjung tinggi nilai-nilai penghormatan kepada sosok ibu. Mitos, dongeng, bahkan sejarah yang berfakta banyak bercerita tentang "kerasnya" Tuhan menghukum hambanya yang durhaka pada ibunya. Ada Malin Kundang di pantai Air Manis, ada jambu mede pelosok jawa, ada Alqomah dimasa Rosul yang harus menanggung lara akibat durhaka pada ibunya.
Terlepas kesahihan riwayat itu, pesan yang penting dari mitos dan cerita tadi adalah betapa menghormati dan memuliakan ibu adalah kewajiban tertinggi setelah menyembah Tuhan. Yang jika dilanggar maka kutukan lara tiada tara siap menanti di neraka bahkan di dunia. Karenanya berabad yang lampau Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda "Sukakah saya beritahukan kepadamu sebesar-besar dosa yang paling besar, tiga kali (beliau ulangi). Sahabat berkata, ’Baiklah, ya Rasulullah’, bersabda Nabi. "Menyekutukan Allah, dan durhaka kepada kedua orang tua, serta camkanlah, dan saksi palsu dan perkataan bohong". Maka Nabi selalu megulangi, "Dan persaksian palsu", sehingga kami berkata, "semoga Nabi diam" [Hadits Riwayat Bukhari 3/151-152 -Fathul Baari 5/261 No. 2654, dan Muslim 87].
Ibu dan Penghormatan Terhadap Perempuan Kenapa begitu penting ibu, karena ia adalah perempuan yang melahirkan kita. Yang bertaruh dengan nyawanya demi hidup buah hatinya. Tuhan maha adil, kenapa bukan laki-laki yang melahirkan kita, tetapi perempuan, disinilah alasan Tuhan memuliakan kaum perempuan. Perempuan bukan hanya menjadi konco wingking yang hanya mengurusi masalah dapur, sumur dan kasur. Lebih dari itu Perempuan adalah Madrasah bagi anak-anaknya. Sekolah paling baik, yang mengajarkan kasih sayang, sekolah yang efektif menanam budi pekerti. Fungsi perempuan yang diemban oleh sosok ibu sejatinya begitu penting bagi peradaban manusia.
Betapa dibalik orang-orang besar yang menyejarahi dunia ada sosok ibu yang luar biasa. Yang dengan kekuatan doa dan kedekatan pada Tuhannya melahirkan Rosul kekasih Tuhan, sekelas Ismail as, Musa, Isa bin Maryam, dan Muhammad saw. Perempuan Yang dengan lembut kasih-sayang tangannya melahirkan para imam pemimpin orang-orang taqwa. Yang dengan santun budi pekertinya melahirkan cendekiawan-cendekiawan lentera dunia.
Betapa Tuhan memuliakan perempuan, karena dari golongan inilah muasal sosok Ibu.
Jumat, 06 Agustus 2010
Senin, 14 Juni 2010
Dalam Memotivasi, Bapakku The Real Professor
Pekerjaan Bapak adalah Jogoboyo, ada pula yang bilang Bayan, (tidak tahu padanannya saat ini). Jabatan ini cukup "prestisius" di kampungku bukan karena sistem gajinya yang menjanjikan atau tunjangan jabatannya yang menjulang tetapi karena ia akan sangat sibuk dan dibutuhkan banyak orang ketika ada anak sunatan atau tengah malam ada orang lairan, bahkan ketika ada orang berkelahi karena rebutan batas pekarangan.
Kerjaan administratif yang pernah ia lakoni paling banter adalah memungut ipeda (PBB) dan iuran lumbung padi. Ia terpilih bukan karena penguasaan akuntansinya setara dengan Safir Senduk, atau cara mendekati wajib pungutnya yang menerapkan pelayanan prima seperti KPP Pratama, tetapi oleh lurah ia terpilih mengurus tugas ini karena kejujurannya yang luar biasa. Untuk yang satu ini saya sangat salut, jangankan untuk melakukan korupsi berangan-angan saja tidak pernah. Padahal waktu itu belum ada satgas anti korupsi karena memang korupsi belum "diberantas". Andai saja saat ini ia bergelar Sarjana Hukum atau lulusan akademi Polisi pasti ia aku daftarkan jadi Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi.
Bapak tak pernah langganan koran, paling baca koran bekas bungkus kacang goreng sehabis nonton wayang. Beliau buta teknologi, tak pernah pula kuliah atau seminar-seminar yang membicarakan motivasi. Aku pastikan ia tak pernah mengenal Maslow, atau Frederick Hertzberg, mahaguru motivasi. Bapak tak pernah menyimak kata-kata bijaknya Renald Kasali, salam supernya Mario Teguh, atau semangat "dahsyatnya" Tung Dasem Waringin. Tapi dalam hal memotivasi khususnya untuk anak-anak dan istrinya aku mengapresiasi lebih dengan acungan jempol. Tidak dengan teori-teori yang rumit atau tulisan-tulisan yang susah aplikasinya, Bapak memberi motivasi dalam tataran yang sangat praktis, mudah dicontoh, dan pastinya sangat mengena bagi orang-orang yang dimotivasi.
Sebagai contoh, (ini tak pernah mungki aku lupakan) Ketika aku duduk di bangku SD, setiap akhir catur wulan ketiga menjelang test akhir, Bapak selalu meminta (memerintahku) untuk belajar. Tak panjang kalimatnya "Sinau" (belajar-jawa), diucapkan dengan nada memerintah dan sedikit mengancam. Kali ini aku pasti sangat merasa terterot dengan kata-kata itu.
Setelah mendapat perintah belajar, mau tidak mau aku harus melaksanakan belajar dengan sungguh-sungguh. Dan soal hasil Bapak tau betul bagaimana menyikapinya. Jika aku sudah belajar dengan sungguh-sungguh dan mendapat ringking 3-1 di kelasku, Bapak akan memberikan penghargaan, Bapakku pasti langsung mengajakku ke restoran paling enak di kotaku (versi Bapak). Aku merasa sangat tersanjung, senang dan bangga, bahwa perjuanganku meraih prestasi dihargai Bapak, meski hanya diajak ke restoran yang sebenarnya lebih pantas disebut "warung makan".
Ritualnya selalu hampir sama setiap tahun, selesai pengambilan raport, aku dibonceng dengan sepeda onthel sejauh 3 KM oleh Bapak. Beliau memboncengkanku sambil bercerita, "orang sekolah itu penting, kamu bisa jadi apa saja dengan sekolah dan pinter". Kamu tidak harus susah manjat kelapa menjadi tukang ngunduh, atau harus panasan jadi buruh tani begitu Bapak memberikan motivasi agar aku rajin belajar. "Cukup Bapak saja yang jadi orang bodo, anak-anak Bapak harus jadi orang pinter, agar hidupnya tak susah dan menyusahkan orang lain" begitu kelanjutan nasihatnya.
Selanjutnya sepeda dititipkan, lalu kami melaju dengan angkutan umum sejauh 10 KM untuk mencapai kota kecil itu. Kami berjalan-jalan sejenak untuk sampai restoran yang kami tuju. Hebatnya Bapak selalu memesankan menu paling spesial di restoran itu untukku. Aku sering tanya, "apa lauknya boleh dibawa pulang" mengingat di rumah tak pernah makan seperti ini. dan aku ingat dengan kakak-kakakku. Beliau menjawab "habiskan saja" ini hari istimewa untukmu. Saat-saat seperti itu begitu terkesan di jiwa dan ragaku hingga hari ini ketika aku telah menjadi seorang Bapak.
Aku yakin apa yang Bapak lakukan dengan "mentraktirku" di restoran dengan menu yang super mewah itu memerlukan perjuangan tersendiri darinya. Mungkin ia harus menghemat beberapa hari atau lebih giat ngunduh, bekerja agar mampu mengumpulkan duit dan mempersembahkan penghargaan itu padaku.
Namun bagaimanapun dengan penuh syukur aku yakin Bapak sekarang telah mengunduh apa yang menjadi tanaman dan perjuangannya dalam memotivasi anak-anaknya; tiga anaknya sekolah sampai tingkat atas, dua diantaranya sarjana, dan mudah2an tahun depan Bapak bisa berangkat haji, tentunya atas izin Alloh dan dukungan semua keluarga (Insya Alloh).
Belakangan setelah aku kuliah, aku baru menyadari bahwa apa yang dilakukan Bapak dalam menyemangatiku belajar jumbuh dengan teorinya Professor Frederick Hertzberg yang sangat terkenal di dunia manajemen yaitu teori "Carrot and Stick".
Bapak tahu betul dalam melakukan motivasi pada anak-anaknya. Meskipun dengan cara berbeda ada yang sama dari Bapak yaitu selalu memberi motivasi pada anak-anaknya. Buatku, meski tak seprofesor seperti Maslow, Frederick Hertzberg atau Renald Kasali. Bapak adalah The Real Professor dalam hal memotivasiku, hingga hari ini, besok, dan kelak.
Terima kasih Bapak, terima kasih profesor.
Semoga Alloh mengasihinya, memberikan hidup yang berkah dan umur yang manfaat

