Senin, 07 Juli 2014
Rabu, 27 November 2013
LEVEL KOMITMEN PADA ORGANISASI DAN BAU PARFUM
Kadang kita dipertanyakan oleh bos, pimpinan kita, atau orang lain, sedalam apa komitmen kita dengan organisasi tempat kerja kita.
Kalo saya pribadi sebenarnya soal komitmen itu seperti pake minyak wangi, kita gak perlu bilang "saya pake hugo boss, saya pake kenzo jungle, saya pake rexona women (buat para jomblo biar dikira abis ketemu pacar) atau saya menggunakan minya missik" (yang terakhir saya peroleh di tanah abang dan ternyata itu buat nyuci keris). Jadi seperti pake minyak wangi, yang tahu itu diri kita, tapi biar orang lain yang menyampaikan penilaian itu seperti apa kita berkomitmen pada organisasi kita. (bingung kan aku dewe yo mumet), intinya komitmen itu tidak terkatakan,,,
Menyoal komitmen itu tentang hubungan, dan soal hubungan kerja atau hubungan dengan organisasi kalo gak salah beberapa pakar telah mengklasifikasikan ;
kontrak transaksional ; bersifat jangka pendek, tersektor, dan dasarnya lebih materiil
kontrak relational ; melibatkan emosi, sudah membicarakan tanggung jawab dan hubungan antar unit/bagian
kontrak psikologis Karyawan diwajibkan untuk mendukung organisasi, menunjukkan kesetiaan dan komitmen terhadap kebutuhan dan kepentingan organisasi. Selain itu, karyawan diharapkan menjadi anggota
organisasi yang baik. Organisasi sebaliknya memberikan komitmen untuk menjamin kesejahteraan dan kebutuhan karyawan beserta keluarganya.
Sampai sini sebenarnya kita bisa tahu sejauh mana komitmen kita pada organisasi, di level mana kita berhubungan dengan organisasi ; psikologiskah, relationalkah atau bahkan kita masih di level transaksional,, ketika semua harus tertuang secara ekstrinsik dan mengandung nilai nominal yang jelas atas hubungan kita dengan organisasi.
Pada level psikologis, kadang kita tak perlu sebuah perintah untuk mengerjakan, atau tak perlu ditunjuk untuk melakukan. Rasa cinta kita pada organisasi ini yang menggerakkan kita, di luar kesadaran, tetapi penuh ikhlas, ini mungkin yang disebut setia pada pekerjaan dan organisasi.
Teman saya berpendapat, saya mencintai pekerjaan saya dengan ikhlas, karena dengan bekerja saya sambil beribadah bahasa kerennya itu sincerity. Temen saya melanjutkan ; "saya mencintai pekerjaan saya karena dari bekerja itu saya dapat rizki dan dapat memberi makan anak istri". Dalam kategori ini saya mendebat, itu masih transaksional, karena anda menuntut organisasi atas apa yang anda lakukan padanya. Kemudian temen saya bilang apa dong alasannya "harusnya anda ikhlas, tanpa alasan pribadi, itu baru kontrak psikologis" dia malah menjawab "anda terlalu sufi dan sepertinya nggak mungkin di dunia yang realistis ini". Saya hanya mesem-mesem, dan kembali bertanya pada saya pribadi "seintim apa hubungan saya dan organisasi". Sudahlah biar orang yang menilai saya pake minyak wangi apa,,, saya tak perlu katakan,,,, daripada saya bilang saya pake parfum Antonio Banderas orisinal, nyatanya saya cuma pake refreshing tissue sebuah maskapai yang saya beli dari pengasong di lampu merah.
Senin, 18 November 2013
Sayur Lumbu Menu Surgawi Dari Pematang Sawah ,,
Tadi chat dengan temen kecilku di kampung, di akhir chat aku pamit untuk makan siang, dan dia nanya "apa menu favorit masa kecilmu" pertanyaai ini akhirnya malah memperlama chat, karena aku punya jawaban yang banyak, tentang menu masa kecilku.
Sewaktu kecil (malah sampai sekarang) aku hobi makan, makan apa saja masakan ibuku. Mungkin ibuku rada kewalahan, tapi aku tak pernah melihat raut sebel di mata ibuku setiap aku minta makan (lagi), paling dia cuma bilang "perasaan baru selesai makan kok dah makan lagi?". Dan aku suka komentar ibuku yang lain, katanya aku selalu makan enak, artinya aku selalu terlihat makan dengan nikmat, apapun menunya, mau yang menu mewah maupun yang menunya mepet sawah.
Kembali ke menu masa kecil, anda tahu sayur lumbu? lumbu itu sejenis talas, yang ditanam di pinggiran pematang, jadi tanahnya antara basah dan kering, daunnya layaknya daun talas lainnya, ubinya di panen usai panen padi, dan batang daunnya itu yang belum terlalu tua dapat di sayur, itulah yang disebut sayur lumbu.
Racikan bumbu sayur ini sebenarnya mirip dengan gulai, bedanya mungkin tidak pedas, dan kuah kuningnya berasal dari warna kunyit. Aromanya sangat mengundang setelah ditaburi bawang merah goreng. Sayur ini akan melupakan banyak hal termasuk lauknya, namun paduan yang pas adalah sambel terasi dan peyek ikan asin. Jika ini beradu di lidah, maka kepahitan hidup dan kutukan nasib akan terlupakan.
Aku dulu mengira sayur ini adalah sayur nikmat dari menu restoran pinggiran surga, untuk orang-orang yang termarginalkan nasibnya. Sayur ini dibawa atas kebaikan hati malaikat penjaga surga dan kerahman-rahiman Alloh, sehingga sayur ini diturunkan. Aku mengira Alloh berkehendak, "biarlah aku uji ummatku ini dengan kemiskinan dan kepahitan hidup, tapi aku akan karuniai dia dengan menu surga-Ku "sayur lumbu, sambel terasi dan peyek ikan asin". Anehnya orang-orang yang selesai menyantap menu ini biasanya akan berulang kali mengucap hamdalah, berpanjang-panjang syukur bahkan bertasbih kepada Alloh. Karena pikirnya biarlah kesengsaraan dunia ini menerpa, tetapi menu surga ini akan menjadi penawar sementara, Subhanalloh walhamdulillah.
Sebenarnya masih banyak menu yang lain, ada sayur kaprok kembang gedhang , sayur ini juga mengirimkan kenikmatan surgawi di lidah dan tenggorokan, menimbulkan rasa tentram dan berefek pada kepuasan. Lain lagi dengan sayur kulit mlinjo yang pedas dan bersantan, sayur ini bikin semangat, semangat untuk nambah nasi lagi, apalagi jika dihidang dengan tempe goreng, hangat dan mengundang.
Itulah sekelumit menu spesial masa kecilku,,, apa menu masa kecilmu?
Rabu, 28 Agustus 2013
Saya dan Pak Agus Rijanto Sedjati
Pertama sekali saya haturkan terima kasih kagem Pak Agus, atas inspirasinya,,
Pak Agus mengajari kita bagaimana berkarir dengan tindakan yang nyata. Kepemimpinan situasional tidak saja menjadi teori Pak Agus, tetapi beliau terapkan dalam keseharian.
Silahkan intip dosirnya, Pak Agus memulai menjadi PNS, dari golongan I dan pensiun di golongan IV e. Satu lagi yang luar biasa tingkat gaji Beliau berada pada matriks yang paling mentok di akhir karirnya sebagai PNS, serta finish dengan catatan yang sangat menkilap sebagai seorang Sekretaris Ditjen.
Buat saya pribadi, Pak Agus pemimpin yang hangat dan ngemong,
Pak Agus selalu berterima kasih kepada semua kru termasuk
saya yang kebagian ngemsi, setiap selesai acara. Satu lagi yang membuat saya ge-er karena konon
beliau suka dengan gaya ngemsi saya, hehehe.
Saya sangat
menyesal, pada acara resmi terakhir bersama beliau, saya membuat kesalahan
fatal. Saat saya menjadi MC pada bagian greeting
, saya tidak “menyapanya” sementara pejabat yang lain saya sapa. Kesalahan ini
tak mungkin saya perbaiki dihadapan beliau karena 1 september besok beliau
pensiun. Saya hanya berharap semoga beliau memberikan maaf buat kesalahan saya
ini...
Terakhir, kepada Pak Agus saya mohon maaf , terima kasih Pak atas semuanya,, salam hormat-takzim saya kagem Ibu dan salam juga buat putro
wayah Bapak...
Selasa, 23 Juli 2013
Senyum itu,,,
Suatu sore ku kayuh sepeda bututku, melintasi kerikil2 besar jalanan kampung. Aku menuju ke suatu tempat, bukan untuk menjemput kekasihku, atau untuk suatu pekerjaan.
Aku hanya ingin melihat senyum seseorang, selintas saja, karena memang dia gak punya banyak senyum itu kecuali untukku.
Senyum seorang perempuan, seperti dalam cerita putri-putri raja di keputren dalam pingitan dan penjagaan benteng.
Aku suka menunggu senyum itu, meski hanya secuil saja, sudah membuatku jungkir balik... karena begitu manis dan indah senyum itu.
Perempuan lugu dengan rambut sebahu yang selalu di kucir di belakang. Senyumnya pelit, karena sesungguhnya dia hanya menyembunyikan setiap senyumnya kepada siapapun, mungkin senyum itu hanya untukku.
Kesan pendiam membuat orang menyangkanya tak ramah tetapi tak judes juga. Aku tahu sebenarnya ia pribadi yang hangat. Menurutku dia ayu, kulitnya yang putih membedakan dengan temen kampung sebayanya.
Meski aku merindukan dalam mimpi da nyata kala itu,,sayang aku tak memiliki kepercayaan diri untuk menyampaikan satu kata saja untuknya. Aku hanya mampu mengintip seyumnya, di setiap kesempatan,
yang aku tahu sebenarnya itu termanis untukku.
Hmmm .... andai saja saat itu aku punya nyali untuk mengatakan,, "senyummu manis, aku ingin mendapatinya selalu, maukah kau jadi milikku???"
.......
Jumat, 30 November 2012
Refleksi, Pilkades Kese 2012
(saya tulis
suatu malam, insya Alloh dengan emosi yang benar-benar telah reda)
Usai sudah
rangkaian acara Pilkades Kese 2012, kemenangan symbol padi (Mardiyanto) atas
ketela (Fajar Hidayat) mengantarkan Kese pada era baru kepemimpinan. Harapan
saya sebagai warga (meski hanya warga musiman – setahun sekali) pemimpin Kese
kedepan mudah-mudahan amanah, mampu menjalankan roda kepemimpinan di kese
sehingga semakin makmur, aman lan penuh berkah.
Pilkades ini
sedikit banyak menyita porsi pemikiran dan energy saya sejak awal hingga akhir.
Sehingga usai pilkades ini saya ingin menuangkan tulisan ini untuk sebuah
refleksi yang mungkin dapat saya jadikan pelajaran hari ini atau kelak, oleh
saya sendiri atau anda yang sempat membacanya;
-----------------------
Kekalahan Fajar
dalam pilkades Kese, diakui atau tidak menunjukkan betapa uang masih menjadi
panglima. Masih banyak orang memilih karena diberikan sejumlah uang. Ironisnya
adalah, perubahan dukungan yang di akibatkan pemberian uang itu terjadi
beberapa jam bahkan menit sebelum pencoblosan. Banyak orang melupakan janji
sebelumnya untuk mendukung Fajar (yang memang tidak memberikan uang), luntur
begitu saja terlupakan demi lembaran uang tunai. Entah apa yang ada di kepala
orang-orang itu, hingga melupakan janjinya. Ikatan janji yang diberikan oleh warga ketika
fajar sowan satu persatu ke rumah untuk
meminta dukungan dilupakan, tergantikan oleh fulus.
Lebih ironis
lagi, beberapa warga yang pada menit-menit terkhir ditempel dengan uang untuk
mengubah dukungan, adalah mereka yang memiliki hubungan nasab (keturunan)
dengan calon terpilih (Mardiyanto). Sehingga selain uang tunai yang menggiurkan, pembenaran lainnya adalah
mereka memilih saudaranya sendiri sehingga jumbuh dengan hadits-hadits shoheh yang merujuk pada “membangun silaturrahim” dan ancaman
bagi orang-orang yang “qot’urrahim” (memutus silaturrahim). Saya hanya berasumsi bahwa si pembagi uang "menggunakan" pendakwah, entah kyai atau apa untuk menyebarkan hadits-hadits tersebut. Setidaknya mekanisme menyebar opini penggunaan hadits tersebut seiring sejalan dengan pembagian uang - bisa bersamaan bisa tidak.
Dengan demikian orang-orang yang kemudian berganti pilihan (dari ketela ke padi) merasa sangat benar, bahkan haqqul yakin apa yang dilakukan itu “diridhoi” Alloh. Melupakan janji hanya demi “hadits” yang telah ditempel dengan lembaran-lembaran merah uang rupiah bukan suatu kesalahan menurut mereka. Na’izubillah – (Yang ini berdeasar kesaksian).
Dengan demikian orang-orang yang kemudian berganti pilihan (dari ketela ke padi) merasa sangat benar, bahkan haqqul yakin apa yang dilakukan itu “diridhoi” Alloh. Melupakan janji hanya demi “hadits” yang telah ditempel dengan lembaran-lembaran merah uang rupiah bukan suatu kesalahan menurut mereka. Na’izubillah – (Yang ini berdeasar kesaksian).
Kalo saja hadits
ini konsisten dipakai dan diamalkan, ceritanya akan lain, tetapi karena sejarah
warga Kese (saya tidak akan menyebut kelompok mana) telah
beberapa kali mengingkari hadits ini, saya menjadi ragu, bahwa penghianatan
atas dukungan kepada Fajar tidak semata karena hadits ini tetapi ada hal lain yang sifatnya
instan belaka. Wallohu’alam.
Saya tidak
sedang menuduh bahwa uang-uang yang dibagikan adalah uang calon agar
memilihnya, tetapi bias jadi uang-uang itu adalah milik para penjudi yang
menginginkan jagoannya menang. Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam setiap even
pilkades, pasar taruhan “toh-tohan” sangat besar jumlah maupun nominalnya.
Sekali lagi saya
tidak membidik calon terpilih tetapi saya mencermati pemilih, bahwa dukungan pada pilkades Kese 2012 masih
diwarnai dengan politik uang. Padahal orang Kese yang tukang ngaji pasti ingat bahwa memilih calon karena imbalan
uang dikategorikan sebagai risywah atau suap yang barang tentu haram
menurut agama.
Harga diri seseorang masih terbeli dengan dua ratus atau tiga ratus ribu dalam pemilihan ini. Jasa baik, hubungan yang kenthel, janji yang terucap dilupakan begitu saja demi uang yang telah dilegitimasi dengan berbagai pembenaran bahkan dengan sabda Nabi sekalipun. Halal haram tak lagi penting, dari mana dan dari siapa uang itu tak lagi masalah, kepentingan instan yang lebih mengedepan. Lebel-lebel dalam masyarakat, digadaikan dengan murah, wejangan-wejangan kyai, tak berbekas.
Harga diri seseorang masih terbeli dengan dua ratus atau tiga ratus ribu dalam pemilihan ini. Jasa baik, hubungan yang kenthel, janji yang terucap dilupakan begitu saja demi uang yang telah dilegitimasi dengan berbagai pembenaran bahkan dengan sabda Nabi sekalipun. Halal haram tak lagi penting, dari mana dan dari siapa uang itu tak lagi masalah, kepentingan instan yang lebih mengedepan. Lebel-lebel dalam masyarakat, digadaikan dengan murah, wejangan-wejangan kyai, tak berbekas.
Saya menyayangkan para pemilih yang dibutakan dengan
uang dan kepentingan sesaat. Ini salah siapa??? entahlah mungkin kita
semua, tapi setidaknya saya telah mengajak diri saya dan anda melalui
forum facebook, dan pertemuan lain untuk menciptakan pilkades Kese yang
bersih jauh sebelum pilkades ini digelar, masih ingat bukan?
Menilik kebelakang sejarah majunya fajar dalam kancah Pilkades Kese, bagi saya dimulai suatu ketika dia gtalk saya ( sekitar oktober 2011), dalam gtalknya dia menyatakan bahwa ada beberapa orang menginginkan dirinya maju dalam pilkades. Saat itu belum ada kepastian kapan adanya pilkades hanya kemungkinan akhir 2012, bakal calo lain belum terlihat apalagi mengibarkan bendera. Rasanya memang terlalu dini, tetapi untuk sebuah niat besar dan baik tak ada salahnya dimulai dari awal.
Menilik kebelakang sejarah majunya fajar dalam kancah Pilkades Kese, bagi saya dimulai suatu ketika dia gtalk saya ( sekitar oktober 2011), dalam gtalknya dia menyatakan bahwa ada beberapa orang menginginkan dirinya maju dalam pilkades. Saat itu belum ada kepastian kapan adanya pilkades hanya kemungkinan akhir 2012, bakal calo lain belum terlihat apalagi mengibarkan bendera. Rasanya memang terlalu dini, tetapi untuk sebuah niat besar dan baik tak ada salahnya dimulai dari awal.
Kala itu tekad
Fajar belum bulat, banyak hal yang dia belum yakin, sebagai missal dia menyebut
dirinya “jago crondol” (miskin). Ada keraguan terkait permasalahan logistic dan
keuangan jika dia harus maju nyalon dalam pilkades.
Namun satu hal
yang menarik, dalam obrolan siang itu, bahwa orang yang mendukung dia maju
menyemangati dia untuk maju dalam pilkades dengan meninggalkan cara lama yang
menghambur-hamburkan uang. “Siapkan saja biaya pendaftaran, gak usah bagi-bagi
uang kamu maju jadi calon kades, pasti banyak yang dukung”, begitu dia
disemangati oleh tokoh itu. Sampe pada kesimpulan bahwa saya bertekad “siapapun
lawanmu, aku akan ngrungkebi darmaku untuk membelamu dengan syarat, seperti
yang diatas, “tanpa politik uang” itu penutup obrolan saya dengan Fajar.
Dari situ saya
memberikan masukan-masukan agar Fajar
terus menyusun strategi, beberapa tokoh saya minta agar disowani langsung oleh
Fajar dengan intens. Keluarga intinyapun belum tahu semuanya, tetapi satu
persatu diyakinkan untuk hajat besar ini. Bolak-balik Jakarta-Kese dia lakukan
untuk koordinasi dengan orang-orang yang dia anggap mempunyai pengaruh. Disisi
lain dia merangkul anak-anak muda untuk mendukungnya, hasilnya luar biasa,
tidak saja anak-anak muda Kese yang berdomisili di Kese yang rela membelanya
sampe titik darah penghabisan, bahkan anak-anak perantauan ikhlas mendukungnya.
Terbukti sekitar
20an orang pemuda-pemudi kese perantauan pulang kampong mendukungnya, tanpa
embel-embel disangoni atau diamplopi, untuk ini saya sangat terharu. Banyak diantara mereka yang pulang kampong
harus rela berganti sift, kehilangan uang lembur, bahkan dipotong uang makannya
demi ijin untuk bias menunaikan hak pilihnya dikampung mendukung Fajar. Hujan
deras tak menghalangi mereka untuk berkumpul, berangkat dengan kendaraan yang
seadanya mereka pulang penuh kebersamaan. Suatu malam saya menatap mereka satu
persatu, dan saya memperoleh energy yang luar biasa, bahwa mereka pulang
atasnama kebersamaan ikhlas mendukung Fajar, meskipun beberapa diantara mereka
harus berbeda pilihan dengan sanak keluarganya.
Di lain pihak, saya
bangga, tokoh yang mendukung Fajar bukan saja tokoh-tokoh konservatif yang
kolot, tetapi juga tokoh-tokoh yang well educated, yang tercerahkan
pemikirannya, sehingga saya merasa benar mendukung calon ini. Tokoh-tokoh yang
mendukungnya sebenarnya tokoh yang “laku” dijual atas nama kebenaran dan
tauladan sedikit cacat di masyarakat dan
punya rekam jejak pengabdian panjang kepada warga Kese.
Pun kemudian
kalah, orang-orang ini sangat lilo legowo, tidak emosional, tidak dendam, dalam
tangis kalahnya dia membangun kepercayaan dan saling menguatkan, kepada
siapapun yang menangisi kekakalahan ini bahwa, “semua ikhtiar baik, telah
dilakukan tetapi Alloh memilih lain, jangan berkecil hati jagat iki isih ombo, Alloh pasti punya tempat untuk kita yang kalah
disini”.
------------------------
Buat anda
tulisan ini mungkin karena saya dalam posisi mendukung yang kalah, sehingga
terkesan hanya menghibur diri “padune kalah”, boleh saja begitu. Tetapi buat
saya, pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa demi uang apa saja bisa dilakukan
dan dengan uang bisa melakukan apa saja. Satu hal yang tidak terbeli oleh uang
adalah kebahagiaan, karena kebahagiaan tempatnya ada di hati yang ikhlas, dan
hati yang ikhlas adalah bersemayam sekaligus mata air kebenaran, dan ingat,
setiap kebenaran datangnya hanya dari Alloh.
Untuk anda yang telah berusaha menciptakan pilkades Kese yang bersih, terima kasih saya sampaikan,,, Tuhan mboten sare, pasti akan membalas setiap kebaikan anda... semoga.
------------------------
Setelah ini harapannya adalah, saya dan temen temen semua berkenan nyengkuyung bareng, mbangun deso, kanti niat kang becik. Hilangkan semua dendam, hindari fitnah yang merusak silaturrahmi, lupakan persaingan meski sebuah pengkhianatan kadang terasa sangat menyakitkan.
Sekarang, kepentingan bersama jauh lebih penting daripada ego masing-masing pribadi, Semoga Alloh memberikan kelapangan hati bagi kita yang merasa “kalah” untuk bias legowo dan semoga Alloh menuntun mata hati mereka yang merasa “menang” sehingga tidak jumowo tersungkur dalam kesombongan
– Wallohu’alam
Setelah ini harapannya adalah, saya dan temen temen semua berkenan nyengkuyung bareng, mbangun deso, kanti niat kang becik. Hilangkan semua dendam, hindari fitnah yang merusak silaturrahmi, lupakan persaingan meski sebuah pengkhianatan kadang terasa sangat menyakitkan.
Sekarang, kepentingan bersama jauh lebih penting daripada ego masing-masing pribadi, Semoga Alloh memberikan kelapangan hati bagi kita yang merasa “kalah” untuk bias legowo dan semoga Alloh menuntun mata hati mereka yang merasa “menang” sehingga tidak jumowo tersungkur dalam kesombongan
– Wallohu’alam
Kamis, 23 Agustus 2012
Lebaran Kali Ini Tanpamu, Ibu
Hari ini (17 Agustus 2012) rasanya cepat sekali
waktu berputar,
sepulang ngajak anak-anak nonton film, mulai jam 3 sore, istriku sibuk packing dan beres-beres rumah untuk ditinggal pulang
kampung besok. Aku tertidur
karena rasanya lelah
setelah sesiang main dengan anak-anak.
Sore ini rencananya, setelah selesai packing kita akan meluncur ke rumah
mertua dan buka bareng disana, habis sholat traweh baru akan meluncur ke
kampung. Tapi sepertinya rencana itu sulit di raih. Hingga sore menjelang magrib, di dinding jam menunjuk angka enam
kurang seperempat, aksi beres-beres belum kelar, apesnya tak ada makanan yang disiapkan karena memang dari awal kita merencanakan
untuk buka bareng.
Beruntung ada mie instan, dan dengan secepat kilat aku rebus bersama telor
untuk sajian buka sore ini,,, Subhanalloh tetep saja buka kali ini nikmat
sekali.
-----------------
Gak tau kenapa, untuk rencana pulang kampung lebaran taun ini aku dari awal
gak begitu semangat, rasanya datar-datar aja. Aku gak terburu-buru untuk segera
pulkam meski libur telah dimulai dari tanggal 17. Makanya aku putuskan untuk
pulang H-1, dengan alasan mudah2an sudah tidak terlalu macet.
Tahun ini pertama aku lebaran tanpa Ibu, biasanya aku suka telp dia, kalo
lebaran menjelang, sekedar tanya ingin dibawain apa. Meski jawabannya selalu
sama “gak usah bawa apa-apa yang penting kamu dan keluarga sehat bisa pulang” tapi aku selalu senang, aku biasanya bawain
kue-kue kering untuknya dan untuk dibagi sanak keluarga disana, dia sendiri
yang mengatur, “untuk si ini si anu” dia yang membungkusi dan bahkan membagikan.
Sejak sakit 2008 aku tak pernah tawari dia baju baru atau pakaian, takut beliau
tersinggung, karena memang tubuhnya menjadi kurus dan susah untuk mencari baju
yang pas. Karenanya aku hanya bisa tawari dia makanan, yang beliau suka dan
boleh oleh dokter.
Ketika masih ada Ibu, rasanya ingin segera pulang dan cepat sampai saat di
perjalanan. Aku selalu ingin segera merasakan tatapan teduh matanya dan hangat pelukannya.
Aku ingin segera melihat bagaimana beliau sulit menjawab rengekan anak-anak.
Kini tak ada lagi dia, rasanya tak ada lagi yang menungguku, saat pulang
seperti ini.
Tahun ini aku juga balik paling cepat dari biasanya, sebelumnya aku pasti
baru balik jakarta seminggu setelah lebaran, kadang lebih, tidak tahun ini, aku
praktis cuma tiga hari di rumah.
Terlalu melow memang, tapi biarlah..., karena aku begitu mencintaimu Ibu...
semoga engkau tenang disana...
Langganan:
Postingan (Atom)

