Selasa, 04 Desember 2018

Bunuh Diri Pers dan Logika Udang






Sambil nunggu boarding di CGK, saya baca tulisan di RMOL tentang Bunuh Diri Massal Pers Indonesia Jilid II, penulisanya Hersubeno Arief (3/12/2018). Ringkasnya, ditengah acara yang dihadiri jutaan manusia di Ibukota, banyak media besar (cetak dan elektronik yang tidak menjadikannya headline. Dimana menurut penulis (Hersubeno Arief), pakem-pakem jurnalistik tidak diikuti seperti ; magnitude, kedekatan (proximity), actual, impact, human interest dan keluarbiasaan yang menjadi pegangan para wartawan di telantarkan begitu saja.

Selanjutnya penulis menduga faktor adanya permainan para pemilik dan pengelola media yang berselingkuh dengan penguasa, yang akan membahayakan eksistensi dan kehidupan media kedepan. Selanjutnya penulis menyampaikan bahwa di tengah terus menurunnya pembaca media cetak, tindakan itu semacam bunuh diri, dan  akan mempercepat kematian media cetak di Indonesia.

Itu analisis jurnistiknya Hersubeno Arief, beda dengan saya. Saya berkhusnuzon dengan melihat bahwa media sedang menggunakan logika udang. Yah logika yang dibangun seperti menyajikan menu udang, dimana menu udang memiliki tiga kelompok orang yang akan bereaksi. Pertama kelompok doyan udang, dua kelompok tidak suka udang dan ketiga kelompok alergi udang.

Media Indonesia tahu persis bahwa 212 layaknya udang, ada yang suka, ada yang ngga suka bahkan ada yang alergi. Faktanya, ada belasan juta manusia  yang berkumpul mengikuti acara reuni 212 (entah data pastinya-setidaknya lebih banyak dari peserta poco-poco car free day). Fakta lainnya ada yang tidak suka acara reuni 212, mereka tidak mendatangi, sengaja menghindari dengan keluar dari Jakarta atau lainnya. Dan yang ketiga juga banyak orang yang matanya merah, gelisah, tensi naik, sesak nafas bahkan baru mendengar kabar acara reuni 212 bakal di helat (saya menyebutnya dalam kelompok alergi). Buktinya sehari sebelum acara 212 ada kelompok yang menolak keras, bahkan ada ibuk-ibuk yang loncat-loncat pager balaikota, mungkin ini lebih dari sekedar indikasi alergi, Ada juga bapak tua brewokan berbicara dengan nada tinggi meminta acara dibatalkan. Ini semua fakta.

Maka dari itu mungkin, ini hepotesis saya (tentu tidak terlalu ilmiah) bahwa media tidak menampilkan berita-berita 212 karena takut pembaca kejang-kejang, sesak nafas, bahkan bisa jadi berakhir dengan gagal jantung dan kematian. Khususnya buat sebagian orang yang alergi dengan reuni 212.

Dan media paham siapa yang akan alergi, pastinya bukan sekedar para pegawai honorer, pekerja harian, petani pinggir kali, atau nelayan musiman yang tidak berdampak signifikan.
Akhirnya, hikmah yang dapat diambil buat saya, berhenti baca koran/media yang mau bunuh diri tadi.

Catatan :
Gambar diatas hanyalah pemanis. Yang satu adalah keris dapur brojol, tangguh kamardikan, pamor melati rinonce, dan gambar satu lagi itu ayam cemani khas Kedu. Keduanya tidak ada hubungan dengan tulisan diatas, jangan dihubungkan dengan dunia klenik, jurnalistik apalagi syirik.

Kamis, 16 November 2017



TAMU IBRAHIM KHALILULLOH, DAN NILAI ADILUHUNG JMENGHORMATI TAMU
(Aruh, Gupuh, Rengkuh, Lungguh Lan Suguh)
oleh
suryono, lahir di jawa, merantau sejak dewasa

Sebagai orang jawa, sejak kecil saya diajarkan oleh orang tua saya untuk menghormati tamu. Entah dari kitab apa, setidaknya nilai-nilai ini secara temurun dituturkan sebagai nilai adiluhung dan panduan bagaimana menghormati tamu yang datang.

Pertama, “Aruh”, bermakna sapaan. Tamu yang datang hendaknya kita sapa dengan menjawab salamnya, mengajaknya bicara. Dalam keseharian bahasa jawa, kita sebut “dimanggakke”. Nilai ini berkaitan dengan bahasa lisan yang kita pakai ketika menerima tamu.

Kedua, “Gupuh”, menujukkan kesigapan, bersegara dalam menerima tamu. Nilai ini ditunjukkan melalui raut muka, eye contack, dan gesture yang kita tunjukkan kepada tamu. Rasa simpati dan empati terhadap tamu harus dikedepankan, dikenal atau tidak dikenal tamu tersebut kita berikan penghormatan secara “gupuh”.

Ketiga, “Rengkuh”, Ketika gupuh dalam wilayah visualisasi, maka rengkuh sudah memasuki wilayah aksi dan interaksi terhadap tamu. Jabat Tangan adalah simbul “rengkuh” yang awam. Sebagian cium tangan, cium pipi kiri dan kanan  (khusus sejenis), cium kening untuk anak-anak kita, adalah bentuk rengkuh, yang merupakan nilai pemuliaan tamu.

Keempat, “lungguh”, penghormatan kepada tamu adalah memberikan tamu tempat dan waktu untuk duduk. Tidak dibiarkan menunggu, berdiri dan tidak nyaman. “Palungguhan” untuk tempat dan ruang lungguh/duduk dalam estetika jawa juga mempunyai derajat yang berbeda sesuai “kalungguhan” atau kedudukan sang tamu. Tingkat urgensi tamu dan “kewigatian” pesan yang akan disampaikan sang tamu akan membedakan dimana tamu diberi tempat untuk lungguh. Tamu biasa akan diterima di teras, tamu agak serius dibawa ke ruang tamu dalam, dan tamu yang lebih serius bisa jadi akan diajak ke ruang yang lebih khusus untuk “lungguh” menyampaikan pesannya. Kata kuncinya adalah setiap tamu, siapapun wajib mendapatkan tempat “lungguh”.

Terakhir, kelima adalah “suguh”, Sebagai tuan rumah yang baik adalah memberikan tamu suguhan yang istimewa. Suguhan yang diberikan tentu saja makanan atau minuman terbaik. Suguhan disajikan dengan cara yang baik, didekatkan kepada tamu dan selanjutnya dipersilakan untuk menikmatinya (diaturke). Menyiapkan suguhan juga sebaiknya tidak ribut, ramai terdengar mengaduk kopi atau menggoreng makanan.
Ini semua adalah bentuk komunikasi penghormatan kepada tamu, yang secara terus ditularkan antar generasi di lingkungan jawa. Saya mendapatkannya nilai-nilai ini sejak kecil. Saya tidak pernah meneliti ini dari sumber manuskrip apa, siapa yang mengarang, kami hanya diminta para sepuh untuk mengamalkan “laku”  adiluhung tersebut.
*****

Sahabat-sahabat sekalian, ternyata jauh sebelum jaman peradaban di Jawa atau bahkan dimuka bumi ini. Ketika sebagain penduduk bumi belum berpakaian,  Ibrahim Khalilulloh yang dikenal dengan Bapaknya para nabi telah dengan begitu santun, tawadhu, dan ramah menghormati tamunya. Pelajaran indah bagaimana menghormati tamu terlukis abadi dalam Al-Quran surah  Adz Dzariyaat ayat 24-27 juga dimuat dalam surat Huud ayat ke-69 (masya Alloh).

Mari kita singkap bagaimana Quran detail menggambarkan Nabi Ibrahim memuliakan tamunya,  Q:S Adz Dzariyaat ayat 24-27

24 Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan?

25 (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: "Salaamun". Ibrahim menjawab: "Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal."

Betapa Nabi Ibrahim tetep menjawab salam dengan santun meskipun dia tidak mengenal tamu yang datang kepadanya. Salam yang dijawab setara dengan salam yang disampaikan oleh tamunya, inilah salam yang Kanjeng Nabi Muhammad S.A.W  perintahkan kepada kita sebagai muslim, “tebarkan salam”, salam yang setara atau lebih baik.

26. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk.

Dua pelajaran penting disini, pertama, “diam-diam”, artinya beliau tidak ingin “mengganggu” tamunya  tahu bahwa dia repot membuat hidangan sehingga tamunya merasa tidak enak. Kebalikan kita kadang malah dari ruang tamu teriak “inem, kopinya ya dua” – na’uzubillah. Pelajaran kedua adalah “dibawanya daging anak sapi gemuk”. Ini adalah sebuah symbol hidangan kelas wahid yang istimewa dan luar biasa.

27. Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: "Silahkan anda makan."

Lagi-lagi pelajaran yang luar biasa, tamu yang tidak dikenalnya tadi dihidangi makanan yang istimewa. Di sini kita mendapat pelajaran cara menghidangkan makanan adalah dengan mendekatkan hidangan kepada tamu. Dan terpenting selanjutnya “dimanggakke” yaitu dalam nukilan ayat diatas nabi Ibrahim berkata “silahkan anda makan”. Masya Alloh.

Betapa santun, beradap, luhur dan indah Islam mengajari kita menghormati tamu. Kanjeng Nabi Ibrahim yang mendapati tamu tak dikenal, dalam kondisi yang mendadak, beliau tetap memberikan jamuan yang luar biasa. Belakangan dalam ayat lanjutannya sang tamu adalah para malaikat yang diutus Alloh memberikan kabar gembira dengan akan hamilnya Ibunda Sarah, yang telah divonis mandul dan tua, kelak akan melahirkan Ishak, dan putranya Ya’kub dan selanjutnya para nabi pemimpin ummat.

Dua hal ini adalah sesuatu yang “jumbuh” atau klop, sama-sama baik dan merupakan ajaran langsung dari langit. Sudah semestinya kita memuliakan tamu kita, sebagaimana dawuh kanjeng Nabi Muhammad S.A.W sebagaimana potongan hadits ini ““Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Wallohua’lam
Subhanalloh walhamdulillah

Samarinda, Rabu Wekasan, Safar 1438, 15.11.17

Jumat, 20 Maret 2015

Lagian Aku Bukan Raja Mataram,

Ketika awal menikah dulu, kalo di tanya orang, punya rencana berapa anaknya nanti? Aku menjawab Insya Alloh 7 (tujuh), dan istriku biasanya cuma mesem-mesem (mungkin) tanda setuju. Setahun pernikahan istriku melahirkan putri kami pertama, lahir normal dan lancar. Anak kami dibesarkan kami berdua, mertuaku dan adik kakak istriku, lengkap kan?

Lima tahun kemudian istriku hamil lagi anak kedua. Kelahiran anak perempuan (lagi) kedua ini penuh sensasi baik istri yang melahirkan maupun aku yang hanya menunggui prosesnya (diceritakan dalam tulisan yang lain). Namun setidaknya kelahiran anak kami yang kedua ini membuat berfikir ulang untuk punya anak 7 (tujuh). Pertama jarak anak satu dan dua terlalu jauh, kedua perjuangan melahirkan anak kedua ternyata jauh lebih sulit dan bikin degdegan.

Budaya jawa secara ga langsung sering mengolok-olok pasangan suami istri yang belum dikaruniai putra alias anak laki-laki. Tapi sebenarnya kami tidak terganggu dengan olok-olok semacam itu. Karena memang dari awal kami tidak ada target punya anak dengan jenis kelamin laki-laki atau perempuan, target kami hanya jumlah ; yakni punya anak 7 (tujuh), laki-laki atau perempuan Alhamdulillah.

Tidak lagi memperhatikan target, istriku melahirkan anak ketiga pada tahun ke-9 perkawinan kami. Dengan jarak kelahiran yang cukup jauh semakin sulit mencapai target mempunyai anak 7 (tujuh). Dan lagi, anak kami ketiga (putri lagi) dikeluarkan secara sesario yang tentu saja membuat perutku ikut mules karena lama menunggu istri di ruang operasi. Ditambah, hari kelima menghirup udara di luar anakku dinyatakan kuning dengan tingkat yang mengkhawatirkan, ini membuat kami makin degdegan. Tapi Alloh kasih kesempatan buat putri kami ketiga untuk bergabung bersama kami sampai hari ini.

Praktis kami menjadi keluarga bahagia dengan tiga bidadari yang cantik-cantik dan sehat, semoga shalihah nantinya seperti munajat kami, robbij’alni muqiimashsholah, maninzurriyyati.
Hingga suati saat istriku menjadi galau, sepulang dinas luar aku rasan-rasan  dengan istriku “bagaimana kalo kita punya anak lagi?”. Entah ide itu dari mana, asalnya aku hanya berfikir, sejak anak kami pertama minta masuk pesantren saat smp nanti rasanya akan sepi rumah ini dengan (cuma) dua anak. Itu mungkin yang mengilhami rasan-rasan itu. Tapi tidak demikian dengan istriku menanggapi, entah karena lagi sensitive bulanan atau karena memang serius, dia mananggapi kalo aku masih ingin punya anak laki-laki. Dan dia merasa gagal dengan tidak dapat melahirkan anak laki-laki dari perkawinan ini, halahh dah kayak FTV aja nih.

Penjelasan panjang lebar bisa diterima istriku, intinya kita harus syukuri bahwa yang sudah dikasihkan ini adalah karunia yang wajib di jaga. Tiga anak perempuan calon bidadari-bidadari, yang semoga mampu menjadi jalan surga bagi ayah ibunya. Tiga anak perempuan yang akan menjadi pewaris tahta keluarga dengan nantinya membangun keluarga-keluarga taqwa (Insya Alloh).

Istriku, jangan pernah galau dengan pemberian Tuhan ini. Tiga anak perempuan rasanya sudah menjadi nikmat terbesar kita. Lagian aku juga bukan raja Mataram, yang harus mendapat anak laki-laki dari garwo prameshwari. Karena sesungguhnya ada atau tidak ada anak laki-laki, kerajaan kita akan kekal hingga kelak di surga, jika kita mampu menjaga mitsaqon ghaliza ini.

Rabu, 24 September 2014

Tuhan Mengirimi Kita Pemimpin, Sebagai Alat Visualisasi Belajar Bagi Kita


Pemimpin dalam konteks pemimpin organisasi dimana kita bekerja, acapkali merupakan sesuatu yang "given". Kita tak mampu memilihnya, kita hanya mampu mengikuti dan menjadi bawahan yang baik agar kondisi kita juga baik. Namun sejatinya dibalik itu semua, kita bisa mengambil pelajaran sikap dan perilaku yang dapat kita kembangkan, dan bermanfaat, hingga suatu saat tiba saatnya kita menjadi pemimpin meski dalam lingkup paling kecil sekalipun. Tuhan mengajari kita leadership melalui contoh-contoh aktual yaitu pemimpin yang kita punya. Sehingga Tuhan menginginkan kita menjadi pemimpin yang adil, yang membawa rahmat bagi semua alam, bukankan Tuhan memberikan beban tanggung jawab kita sebagai khalifah fil ard (pemimping di muka bumi ini)?

Satu ketika, pemimpin yang hadir di tengah-tengah kita terkesan, galak. Ia melihat segala sesuatu benar atau salah, kalau benar diapresiasi dengan caranya, dan kalaulah salah dia akan marah sejadi-jadinya, siapa yang ada di depannya menjadi sasaran amukannya. Kadang kita menjadi tegang di bawah kepemimpinannya. Ketegasannya seringkali membuat semua bergidik, bahkan malas berurusan kalau tidak penting-penting amat. Tahukah kawan, sejatinya dengan pemimpin seperti itu kita sedang diberikan pelajaran, bagaimana ketegasan itu cara yang "halal" dalam kepemimpinan. Ketegasan dan galak merupakan sisi yang berhimpit yang penting dalam sebuah kepemimpinan. Seorang pemimpin harus memiliki ketegasan dalam batas tertentu, sehingga apa yang dipimpinnya menurut dan dapat mencapai tujuan bersama yang di tetapkan.

Dalam suasana yang lain, kita mendapati pimpinan kita seorang yang rapi, tertib dan hati-hati dalam mengambil keputusan. Pekerjaan menjadi terasa lambat, karena sebelum memutuskan sesuatu Beliau terlebih dahulu bertanya "bagaimana dahulu memutuskan kasus seperti ini". Orang-orang lama ditanya dan diminta solusi. Keputusan menjadi sangat lambat dan organisasi kadang di komplain oleh kepentingan dari luar. Pemimping seperti ini kadang terlihat ragu. Dia akan sengan ketika sesuatu yang direkomendasikan sudah teruji dan berhasil.
Ketika seperti ini, tahukah bahwa sesungguhnya kita juga di hadapkan pada modul yang harus kita pelajari bahwa seorang pemimpin harus rapi, hati-hati dan perfect. Kepemimpinan tidak saja kuat dan tegas, tetapi harus rigid dan benar. Keputusan yang tepat atas setrategi yang tepat sangat dekat dengan tujuan yang kita capai, bahkan hasilnya bisa jadi excellence. Dari pemimpin ini kita belajar agar hati-hati dalam mengambil keputusan, dengarkan orang lain dan jangan tergesa-gesa.

Masa berganti, dan kita bertemu dengan pemimping yang sangat poeple oriented. Suasana kerja yang kekeluargaan, cara-cara komunikasi yang memanusiakan orang, hubungan yang hangat antar sesama komunitas apakah pimpinan atau anak buah. Target-target seperti menjadi tidak begitu penting, selain bagaimana diselesaikan secara bersama dan memberikan dampak kesejahteraan bersama bagi seluruh anggota tim. Pemimpin tipe ini seperti seorang bapak yang momong anak-anaknya. Meski kadang berat dalam pekerjaan type seperti ini biasanya disenangi anak buah. Ketika marah layaknya orang tua marah kepada anaknya, seketika itu dan besok sudah selesai. Pemimpin seperti ini menekan tetapi jenaka, memerintah tapi membimbing, menugaskan sekaligus mengajak serta.
Pelajaran yang dapat kita ambil adalah, bahwa seorang pemimpin itu ya pemomong. Dalam terminologi lain pemimpin itu adalah gembala, seorang gembala harus mampu mengayomi gembalaannya dari rasa takut atas intimidasi predator di luar sana. Hubungan interpersonal yang hangat dan manusiawi mempermudah bangunan sinergi dalam mewujudkan teamwork yang rapi dan kuat. Setiap orang di tautkan pada komitment terhadap organisasi dengan pendekatan hati oleh pemimpin type ini.

Bisa juga kita mendapati pemimpin yang sangat perhitungan, kaku dan memandang sesuatu atas dirinya prioritas atau tidak. Jika tidak prioritas dia tidak akan lakukan atau tidak akan diperintahkan kepada bawahannya, dan sebaliknya jika prioritas dia akan mengejarnya dan menekan kepada bawahannya. Type pemimpin seperti ini tidak terlalu repot karena penekannya pada bussiness as usual. Beliau akan bilang "itu bukan tugas kita, ga usah dikerjakan, biar orang lain saja" atau di lain waktu dia akan bilang " kamu kerjakan ini jangan kerjakan yang lain ini saja tugasmu". Perhitungan-perhitungan matematis dan logika-logika bermain dalam setiap kebijakannya. Keputusan diambil secara detail dengan dasar hitung-hitungan yang presisi. Ini yang mungkin menjadikan sosok pemimpin seperti ini tampak kaku.
Kawan, kita sampai pada type pemimpin ini, banyak yang suka ada pula yang tidak. Tetapi satu hal bahwa kita sedang diberikan pelajaran bahwa menjadi pemimpin itu harus pandai membuat prioritas-prioritas. Hitungan dengan data-data yang akurat harus ada untuk suatu keputusan yang strategis. Kita tidak boleh main-main dengan keputusan yang tidak berdasar.

Ok, kawan,, sampai disini kita harus mengambil satu kesimpulan, bahwa siapapun pemimpin yang ada di depan kita, dia adalah wujud atau visualisasi bagaimana Tuhan mengajarkan kita sikap-sikap baik seorang pemimpin. Mengapa demikian, karena memang setiap kita adalah dipersiapkan menjadi pemimpin yang baik di muka bumi ini. Pun kemudian ada pemimpin yang kurang baik atau ga enak dan menjadi bahan gosip karena setiap pemimpin itu juga manusia, yang masih memiliki predikat dosa dan salah.

by the way... Terima kasih Tuhan, semoga engkau karuniakan kami pemimpin yang adil.



Jumat, 05 September 2014

Sampai Batas Persaingan


Sekolah lanjutan atas menjadi kisah-kasih anak-anak manusia, dramatis dan kadang ceritanya semelankolis kisah cinta fitri, atau penuh intrik layaknya kisah ganteng-ganteng serigala. Maka tak heran kalo Obbie Mesakh menyatakan kisah paling indah itu di sekolah. Tapi aku tidak sedang atau akan berkisah tentang kisah cinta atau persaingan penuh intrik di sekolah itu. Aku hanya ingin bernostalgia dengan secuil kenangan di penghujung perpisahan dengan empat temen sekolah dulu. Manusia yang Tuhan kirimkan untukku yang kemudian menjadi motivasi tersendiri dalam mengarungi hidup ini.

Soal prestasi jangan tanya, mungkin aku di urutan lima besar entah (lima belas) atau (dua puluh lima) malah, aku tak begitu peduli karena memang rasanya saat sekolah dulu perkembangan IQ-ku saat itu sudah maksimal. Berbeda dengan temenku yang satu ini, Dwi Haryanto, lulusan terbaik menjadi predikat sejak di TK. Meski latar belakangnya dari keluarga petani menengah semangatnya menjadi yang terbaik tersimpan apik seperti misteri gunung merapi. Potensinya tak pernah ditunjukkan pada siapapun kalo dia adalah calon lulusan terbaik di akhir studinya. Seperti dalam kisah film Rambo di awal masa sekolah prestasinya biasa saja, kalah dengan cewek-cewek kutu buku, tapi di akhir studi keadaan berbalik dia menjadi teratas prestasinya. (biasa jagoan kalah duluan - kira-kira begitu dia berargumen - atau memang moodnya baru dateng). Hanya sayang soal asmaranya kandas dan menjadi dendam yang tak terbalaskan.

Berbeda lagi dengan Saridin, pria lesu yang setiap pagi kutemui sejak kelas satu. Tidak pernah beranjak dari bangku baris dua dari belakang, menundukkan kepalanya terlelap tidur kecapekan, begitu pemandangan kesehariannya di kelas. Sejatinya dia adalah pria enterpreuner yang mandiri dan ulet. Jadi suatu ketika aku menemuinya dalam keadaan yang keren dan maknyos itu adalah sebuah hasil dari proses metamorfosis "laku" lesu beberapa tahun lalu. Tampang lesunya tak lepas karena menggowes sepeda yang sarat dengan muatan yang segera di tukar rupiah di pasar. (sampe tulisan ini di tulis aku belum dapet update kondisi beliau saat ini). Haryati nama cewek pujaannya, mungkin yang menjadi semangat hidupnya kala itu. Dalam pandangannya, Haryati seindah Aryati-nya Ismail Marzuki yang mengejawantah menjadi "mawar asuhan rembulan"
Semangatnya luar biasa, secara pribadi menginspirasiku bahkan sampai hari ini hampir dua puluh tahun.

Satu lagi Iskandar, murid pindahan dari Sekayu - Sumatera Selatan, sepatunya mengkilat, bajunya rapi, rambutnya klimis, tapi selalu terbata-bata melafalkan bahasa Jawa. Dan lidahnya seperti mau ketelen setiap dia ngobrol dengan cewek-cewek favorit di kelas semacam Sukarti atau Arini. Bajunya yang rapi merepresentasikan anak kota, yang ada bibit flamboyan di ujung senyumnya, tak ayal jika perempuan-perempuan blingsatan melihatnya entah nafsu atau risih melihat cara jalannya. Mungkin dia yang jadi sarjana pertama dari kelas kami. Meski prestasinya biasa, tapi semangatnya mendukung cita-citanya menjadi sarjana cepat tercapai. Orangnya baik (apalagi sama cewek) itu yang menjadikan ia semakin tenar dengan cewek-cewek temen sekolah meski sudah lulus kontaknya tak putus.

Pada penghujung, perpisahan dari sekolah itu, berempat saling menantang "ayo sugih-sugihan" selepas dari sekolah. Rasanya tantangan ini seperti jumawa dan arogan, tetapi dengan parameter "sugih" itu adalah berangkat haji, maka rasanya tantangan ini terukur dan mungkin. Entahlah sampai saat ini kita berempat belum pernah ketemu lagi, tapi rasanya tantangan ini masih berlaku sampai batas persaingan ini adalah siapa yang "sugih" duluan dengan berangkat haji.

Ya Alloh Gusti, jadikan persahabatan ini menambah cinta kami kepada Penjenengan.